KEBANGKITAN GURU SENI
Dikirim oleh fansyah pada Jumat, 25 Juli 2008 Penulis: oki 

A.     Pendahuluan   

Semua pihak tentu setuju bahwa peran guru sangat menentukan kualitas pendidikan yang berujung pada kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Di negara-negara yang tekah maju sektor pendidikannya, guru mendapat perhatian yang sangat baik dari sisi kesejahteraan, pembinaan dan pengadaannya. Di Indonesia, kualitas dan kesejahteraan guru masih sedang dalam penataan melalui program sertifikasi kompetensi. Dampak dari program ini menyebabkan guru, termasuk guru seni berupaya dengan berbagai cara untuk memenuhi segala persyaratan agar dapat lolos dalam mengikuti uji kompetensi tersebut. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, guru harus memiliki  empat kompetensi pokok yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan social. Khusus untuk kompetensi profesional isinya demikian :


“Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompresi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.”

Jadi bagi guru seni, membuat karya seni termasuk dalam kompetensi profesional, guru dalam membuat karya mereka menuangkan konsep pemikirannya, emosi dan perasaan estetiknya, kemampuan teknik dalam menguasai alat dan bahan yang digunakan sehingga karya seni mereka merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya, yakni barupa ungkapan tentang kehidupan pribadinya dan tentang kehidupan sosialnya. Oleh sebab itu pembinaannya harus terus dikembangkan agar guru seni semakin bersemangat mengembangkan profesi keseniannya yang tentunya akan berdampak positif dalam melaksanakan pembelajaran seni di sekolah. Pelajaran seni sangat penting bagi siswa dalam hubungannya dengan pembentukan karakter dari aspek emosi dan perasaannya.  

Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, pelajaran seni dan budaya sebenarnya termasuk pelajaran wajib yang harus diajarkan di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah. Oleh karena itu, guru yang mengajarkan pelajaran seni ada di seluruh jenjang pendidikan. Namun, oleh karena pelajaran seni kurang dianggap  penting, sebagai akibatnya berdampak pula terhadap kurangnya perhatian mesyarakat dan pihak-pihak yang menentukan pendidikan  kepada mereka. Kurangnya perhatian terhadap pelajaran seni disebabkan oleh pemahaman yang kurang terhadap potensi kegiatan seni bagi perkembangan pribadi siswa. Hal ini juga berdampak kurang baik bagi semangat guru yang mengampu mata pelajaran seni; banyak dari mereka merasa kurang berharga, kurang percaya diri dan berperan dalam system pendidikan, dan ada juga merasa inferior dibanding guru lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut sangat diperlukan adanya progam yang dapat mengangkat motivasi dan harga diri guru seni yang ada pada seluruh jenjang pendidikan. PPPPTK Seni dan Budaya sebagai satu-satunya lembaga. Salah satu upaya tersebut adalah melalui pelaksanaan Festival Guru Seni dengan tema Seni Untuk Guru yang diselenggarakan oleh PPPPTK Seni dan Budaya Sleman-Yogyakarta. 
 
B.       Peran Pelajaran Seni 

Belum banyak diketahui bahwa kegiatan seni berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik siswa. Kelompok ilmuwan neurophsychology menemukan peta kemampuan otak manusia, bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yaitu belahan kiri dan belahan kanan. Masing-masing belahan ini berinteraksi, secara umum belahan otak kiri mengatur kemampuan logika, rasional dan analitis, sedangkan belahan otak kanan mengatur fungsi intuisi, persepsi, kreativitas, spasial, dan emosi. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk berkesenian melalui pengaturan oleh belahan otak kanan. Selain itu, Howard Gardner menemukan multi kecerdasan (multiple intelligences) yang meliputi kecerdasan linguistic, matematik, spasial, kinesterik, musik, antar pribadi, interpribadi, naturan dan spiritual. Berdasar temuan ini diketahui bahwa setiap orang memiliki potensi kecerdasan masing-masing, seseorang dapat menonjol pada suatu kecerdasan, dua kecerdasan atau lebih. Dari sembilan potensi kecerdasan manusia tersebut, tiga diantaranya menyangkut kecerdasan yang berhubungan dengan seni, yaitu kecerdasan spasial untuk seni rupa, kecerdasan kinestetik untuk seni yang menggunakan media gerak, dan kecerdasan musikal dibentuk melalui kegiatan seni musik. 

Lowenfeld dalam bidang seni melakukan penelitian kurang lebih selama dua puluh tahun pada bidang seni rupa anak, akhirnya ia dapat menyimpulkan bahwa kegiatan seni rupa anak memberikan positif pada pribadi anak, antara lain perkebangan emosi, intelektual, persepsi, sosial, estetik, kreatif dan fisik. Serta ia dapat mengklasifkasikan periodesasi bentuk seni rupa sesuai dengan perkembangan usia anak, jelasnya usia anak bertambah kemampuan seni rupanya berubah. Bukti-bukti nyata lainnya juga mengutarakan bahwa seni memiliki hubngan positif dengan perkembangan kecerdasan manusia. Hal ini dikemukakan oleh hasil penelitian yang dilakukan di Amerika, bahwa mahasiswa yang belajar musik nilai matematiknya lebih tinggi disbanding dengan mahasiswa yang tidak belajar musik. Berdasarkan kenyataan tersebut, kegiatan seni senyatanya mengandung beberapa hal yang sangat positif bagi perkembangan siswa di antaranya adalah menyangkut masalah kepekaan estetik dan kreativitas, selanjutnya berkembang menjadi kemampuan untuk berempati dan menghargai hasil-hasil kebudayaan manusia terutama dalam bentuk karya seni. Selain itu pelajaran seni dapat pula saling mendukung dan bekerjasama dengan pelajaran lainnya, pelajaran seni rupa seperti menggambar misalnya, dapat mendukung pelajaran sejarah, matematik, ilmu pengetahuan alam, dan bahasa. Untuk itu dibutuhkan guru yang aktif dan kreatif.   

C.     Peran Guru Seni

Tidak bisa disangkal bahwa salah satu keberhasilan pendidikan terletak di tangan guru, begitu pula dalam keberhasilan pendidikan seni guru memegang peran sangat penting. Hal yang menarik dalam hal ini adalah bahwa kebanyakan guru seni disenangi oleh para siswa, hal ini menunjukkan bahwa pelajaran seni tidak menakutkan. Kegiatan seni dapat dikiaskan sebagai ventilator karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuangkan semua emosi yang menumpuk dalam dirinya. Selain itu kegiatan seni dapat pula diandaikan sebagai karburator karena dapat mendinginkan dan menyegarkan pikiran yang telah panas dan jenuh dengan beban pelajaran lainnya. Hanya saja, dapatkah guru memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan efektifitas pembelajarannya kepada siswa.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru seni, pertama guru seni menerapkan strategi berbeda antara jenjang pendidikan. Guru seni SD tidak sama dalam menerapkan strategi pembelajarannya dengan guru SMP, apalagi dengan guru SMA dan SMK. Hal ini didasarkan pada klasifikasi kemampuan siswa oleh Lowenfeld maupun Lansing, bahwa kondisi siswa SD secara fisik dan psikologis berbeda dengan siswa SMP maupun SMA. Di antara siswa SD pun ada perbedaan yaitu kelas 1,2,3 (kelas bawah) dengan kelas 4,5,6 (kelas atas) perbedaan kemampuannya cukup signifikan. Strategi pembelajaran pada SD kelas bawah disarankan guru tidak banyak campur tangan dalam hal teknik dan ide menggambar atau melukis karena kemampuan siswa dalam usia tersebut masih murni. Guru dalam hal ini dapat berperan sebagai motivator dan fasilitator, yaitu memberikan semangat kepada siswa, mengarahkan dan membimbing imajinasinya agar ide-ide siswa dapat berkembang sesuai dengan perkembangan fisik dan psikologisnya. Dengan demikian kemurnian ‘seni anak-anak’ tetap dipertahankan. Sering guru atau pelatih seni rupa anak-anak terpeleset dalah hal ini dan berupaya menanamkan kemampuan, selera orang dewasa kepada anak-anak. Jadi guru seni dalam hal ini perlu memperhatikan perkembangan anak-anak sehingga strategi yang diterapkan dalam pembelajaran seni dapat berdampak positif bagi perkembangan anak.
 
D.     Perkembangan Seni Lukis Anak di Masyarakat

Dengan banyaknya lomba seni lukis yang dilaksanakan di masyarakat seharusnya dapat memberi harapan bagi perkembangan seni anak-anak untuk ‘membudayakan’ anak sejak dini. Namun, hal yang terjadi justru memprihatinkan, dengan maraknya dilaksanakan lomba melukis anak-anak kesematan ini bukan digunakan untuk memacu perkembangan siswa ke arah positif yang rekreatif, tetapi oleh beberapa kalangan digunakan sebagai ajang bisnis dengan ‘mengeksploitasi’ anak untuk ikut lomba berkali-kali dalam satu kesempatan dengan motivasi untuk menang mendapatkan hadiah. Dampak dari hal itu terjadi kehebohan di kalangan orang dewasa. Banyak hal-hal menggelikan terjadi, misalnya anak sebelum mengikuti lomba dilatih melukis dengan teknik tertentu dan membuat bentuk tertentu untuk mengikuti selera jurinya. Ada pula orang tua kecewa apabila anaknya sudah sering menjadi juara, suatu ketika kalah, yang disalahkan adalah jurinya. Pada wakru proses lomba banyak orang tua membantu anak-anak dalam membentuk dan mewarnai lukisannya, dan kelompok-kelompok melatih anak-anak melukis dengan teknik dan gaya yang sama sehingga terjadi keseregaman corak lukisan. Akibatnya sulit membedakan karya anak satu dengan lainnya, seni lukis anak dalam hal ini telah menjadi industri.

Hal ini nampaknya wajar terjadi dalam suatu proses menuju kepada kebaikan dan itu mungkin disebabkan oleh beberapa hal misalnya, masyarakat kurang memahami tentang hakekat kegiatan seni bagi perkembangan kepribadian anak serta perkembangan budaya materialisme dan konsumerisme sedang melanda kehidupan masyarakat. Akibatnya setiap orang berlomba untuk mendapatkan materi untuk kenikmatan duniawi tetapi bukan berlomba untuk meningkatkan karakter dan budipekerti. Untuk itu, pada saat ini sangat dibutuhkan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat agar kegiatan seni tidak tersesat dan berdampak buruk bagi perkembangan kepribadian anak-anak. 

E.    Pembinaan Guru Seni Yang Berkelanjutan 

Mencermati semangat guru dalam mengikuti festival seni bulan Juli 2008, patut diperhatikan bahwa guru seni pada saat ini sedang haus meningkatkan kompetensinya. Oleh sebab itu, menjadi tanggungjawab kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan perhatian pembinaannya. Dengan diberlakukannya otonomi dalam bidang pendidikan, daerah memiliki wewenang untuk menemukan arah pendidikan dan sekaligus arah pembinaan guru-gurunya termasuk guru seni. Pada saat ini dana pendidikan dari pusat mengalir ke daerah sehingga daerah berweang menentukan bagaimana bentuk pembinaan yang akan dilakukan kepada guru sebagai salah satu ujung tombak penentuan kualitas baik buruknya keluaran (output) pendidikan.

Guru seni dalam hal ini memiliki posisi membimbing siswa untuk memiliki kepekaan estetik sebagai bagian dari kepekaan budi, olah rasa, kreativitas dan kemampuan melakukan apresiasi terhadap hasil kebudayaan manusia. Jadi guru seni memiliki posisi strategis dalam ‘membudayakan’ siswa sebagai generasi penerus berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu memerlukan pembinaan yang terus menerus karena telah tertinggal jauh dengan guru mata pelajaran lainnya. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya sebagai lembaga pemerintah yang bertanggungjawab terhadap pengembangan pendidikan seni di Indonesia telah melaksanakan pembinaan melalui kegigtan diklat TOT dan membangkitkan motivasi melalui kegiatan festival seni. Kegiatan ini harus dilakukan gayung bersambut oleh Dinas Pendidikan di Daerah, misalnya memberdayakan guru-guru seni yang telah dilatih di PPPPTK Seni dan Budaya untuk melatih guru-guru seni yang ada di daerah. Begitu pula membina guru-guru seni yang memiliki kualitas kompetensi yang baik dalam membuat karya seni, karena direncanakan setiap dua tahun akan diadakan festival guru seni tingkat nasional. Dengan demikian pembinaan kepada guru terjadi dua arah – pusat dan daerah. Hal ini diharapkan memiliki dampak yang baik bagi perkembangan pendidikan seni di seluruh daerah di tanah air dan berdampak baik pula bagi perkembangan kepribadian generasi penerus bangsa di masa mendatang. Maka untuk semua guru seni mari kita bangkit untuk menorehkan perasaan estetik dan kreatif dalam pribadi siswa-siswi sebagai harapan generasi penerus bangsa.

Demikianlah uraian singkat ini mudah-mudahan dengan dimulainya diadakan festival guru seni sebagai penanda dimulainya kebangkitan guru seni di seluruh tanah air. Dengan bangkitnya guru seni berkembang pula semangat guru untuk mendidik siswa-siswi secara tulus dalam membentuk kepribadiannya melalui kegiatan berkesenian. 

Yogyakarta 27 Juni 2008 
 
A. Agung Suryahadi  


 


Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.

Anda tidak dibolehkan mengirim komentar, silakan daftar di sini
Associated Topics

P4TK Seni dan BudayaPendidikanSeni Budaya

Majulah Seni Budaya Indonesia

Copyright © 2008 Pusat Data dan Informasi
P4TK Seni dan Budaya Sleman Yogyakarta

Webmaster: RUSFANSYAH