E9 FOKUS PADA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU
Tanggal: Selasa, 11 Maret 2008
Topik: Pendidikan


Denpasar, Minggu (9 Maret 2008)-- Peningkatan pendidikan dan pelatihan bagi guru menjadi fokus dalam  pertemuan  menteri–menteri pendidikan  sembilan negara berkembang (E-9 Ministerial Review Meeting on Education for All). Pertemuan E-9 ke tujuh yang berlangsung pada 10-12 Maret 2008 di Nusa Dua, Denpasar, Bali, ini akan dibuka oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla. 




Sembilan negara anggota E-9 adalah  Bangladesh, Brazil, Cina, India, Indonesia, Meksiko, Mesir, Nigeria, dan Pakistan.
Pertemuan menteri pendidikan dari sembilan negara ini penting karena negara–negara ini  mempunyai jumlah penduduk terbesar di dunia.

Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), menyebutkan, Cina berpenduduk 1,4 miliar, India 1,1 miliar, dan Indonesia 240 juta. "Separuh penduduk dunia berada di sembilan negara ini. Permasalahan pendidikan di negara-negara ini turut mempengaruhi peta global pendidikan," ujar Fasli dalam press briefing di Hotel Westin, Nusa Dua (09/03/2008) menjelang pembukaan pertemuan E-9.

Pertemuan E-9 di Bali mengangkat  tema  “Peningkatan Pendidikan dan Pelatihan bagi Guru sebagai Fokus dalam Sistem Reformasi Pendidikan”. Secara khusus, para delegasi membahas peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru. "Di dunia,  untuk menuntaskan  wajib belajar saja  diperlukan 18 juta guru baru dan 40 persen persen ada di E-9," kata Fasli.

Para delegasi akan berbagi pengalaman untuk menjadikan profesi guru sebagai profesi yang menarik. Mereka akan membahas kondisi kerja, pelatihan, dan pengembangan karier guru. Selain itu, juga dibahas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan pelatihan pendidikan jarak jauh bagi guru.

Menurut Fasli, tantangan ke depan adalah bagaimana memelihara karier guru untuk tetap kompetitif. "Tantangan utama adalah bagaimana mengajak komunitas, seperti orang tua, organisasi sipil kemasyarakatan, dan para pemimpin pemerintahan untuk menghargai dan menghormati para guru."

Caroline Pontefract, Chief Section for Teacher Education Division of Higher Education UNESCO mengatakan, penghargaan terhadap guru tidak hanya berdasarkan kepada gaji semata. "Banyak guru termotivasi kepada hal-hal lain, seperti pengembangan profesionalisme, memperoleh dukungan secara sistematis, serta diakui keberadaannya," ujar Caroline.

Pertemuan E-9 juga membahas kerjasama antarnegara E9 dalam hal identifikasi isu-isu prioritas, tantangan dan keberhasilan, serta kerjasama tindakan di masa datang. "Pengalaman satu negara dapat membantu negara lain," kata Fasli. Ia mencontohkan, Indonesia cukup baik dalam mencapai program wajib belajar melalui paket kesetaraan. Cina bagus dalam TIK, sedangkan Brazil berhasil dalam kesejahteraan guru berdasar prestasi. Sementara Meksiko sukses dalam menerapkan sistem evaluasi untuk mengetahui kinerja guru.

Isu lain yang dibahas dalam pertemuan E-9 Fasli adalah melihat perkembangan pencapaian EFA. Ada analisis dari UNESCO, negara mana saja yang sudah mencapai dan kemungkinan tidak mencapai. "Kita saling belajar. Bagi negara-negara yang mendapat warning akan berusaha memperbaiki programnya. Ada  respon terhadap kritik untuk perbaikan," ujar Fasli.

Pertemuan E9 pertama kali digelar di New Delhi, India, pada Desember 1993. Sejak itu sembilan negara ini menyamakan persepsi  agar di setiap negara menjadi maju pendidikannya, sehingga pendidikan untuk semua (education for all, EFA) di dunia akan terwujud.*** (MediaCenter Diknas) 







Artikel dari ..::P4TK SENI DAN BUDAYA YOGYAKARTA::..
http://pppgkes.com

URL:
http://pppgkes.com/modules.php?name=News&file=article&sid=470